Kembali ke Asal

Kembali ke Asal

 

Mudik lahiriah adalah kembali ke kota asal, pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu kepada sanak famili.

Mudik ruhaniah adalah kembali ke asal, pulang ke Sang Pencipta.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali).

Pemudik yang berhasil sampai tujuan adalah pemudik yang tahu jalan untuk kembali.

Pemudik yang berhasil sampai tujuan adalah pemudik yang tahu asal.

Selamat Idul Fitri 1438H

Advertisements

Kebenaran

Kebenaran

Biasanya, ketika aku menemukan suatu pemahaman yang aku anggap sebuah kebenaran, yang berdasar dan bersumber dari bahan bacaan atau perkataan seseorang, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebenaran tersebut. Setelah itu akan aku sebarkan kebenaran tersebut. Bila perlu, aku akan mencari dan berkonfrontasi dengan oposisi ku; orang-orang  yang berbeda kebenaran denganku. Akan aku keluarkan semua data dan manuskrip andalanku untuk melawan mereka. Tujuan akhirku adalah agar oposisiku mengamini, sejalan dan sama-sama menganut kebenaran versiku yang aku anggap benar.

Yang aku lakukan ini adalah semata-mata untuk memasarkan sebuah pemahaman yang menurut ku adalah sebuah kebenaran, demi tegaknya kebenaran yang aku anggap benar.

Tapi, kata temanku, menemukan “kebenaran” tidak cukup hanya dengan membaca, mendengarkan dan memenangkan perdebatan. Menemukan “kebenaran” dengan benar adalah dengan sebuah pembuktian nyata melalui sebuah laku ke dalam diri, tindakan kepada diri, proses perjalanan menuju diri.

Kata temanku, penemu-penemu “kebenaran” kadang bersembunyi dan tersembunyi. Penemu-penemu “kebenaran” merasa tidak perlu untuk menampakkan diri.

Mereka tidak perlu mencari lawan untuk berkonfrontasi, karena mereka sadar, pada hakikatnya, semua manusia sedang diperjalankan untuk menemukan ”kebenaran”.

Mereka tidak perlu memasarkan sebuah “kebenaran”, karena mereka sadar, pada hakikatnya, para pencari  “kebenaran” pasti akan dipertemukan dengan para penemu “kebenaran”.

Pada hakikatnya, “kebenaran” itu sendiri akan menghampiri setiap manusia yang dengan sungguh sungguh mencari “kebenaran”.

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al-Isra [17] : 81)

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah [2] : 147)

Katanya

img_1536-13 orang sahabat sedang asyik bercengkerama…

Koko : “Ja, Tuhan itu ada atau tidak?”


Jaja : “ada!”


Koko : “Tahu darimana?”

Jaja : “kitab suci, perkataan para nabi…”

Koko : “Oh, masih katanya…, belum mencari kok sudah bilang ada…”

Koko : “sekarang kamu Jo, Tuhan itu ada ngga?”

Jojo : “ngga ada!”

Koko : “tahu darimana?”

Jojo : “lha mana? Aku belum pernah bertemu! Tuhan dimana aku juga tidak tahu! Katanya, Tuhan itu buah pikiran manusia, yang menciptakan Tuhan ya manusia!”

Koko : “Oh, masih katanya…belum mencari kok sudah bilang tidak ada…”

Jaja & Jojo : “lha menurutmu Tuhan itu ada tidak Ko!?”

Koko : “lha kok nanya aku, carilah sendiri, buktikanlah sendiri Tuhan itu ada atau tidak, jangan cuma “katanya”.

AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Manusia itu rahasiaKu, dan Akulah rahasianya (hadits Qudsi)

Aku Munafik?

Aku Munafik?

Aku Munafik?

Membaca wall di Facebook akhir akhir ini banyak berseliweran kata “munafik”.

Pertanyaan yang terlintas di pikiranku, “apakah aku termasuk orang yang munafik?”

Menurut sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim)

Kalau hadits tersebut diarahkan kepada hubungan antar sesama manusia, bisa aku pastikan aku bukan orang yang munafik. Kenapa?  ya seingatku, akhir akhir ini aku tidak pernah berbohong, tidak pernah ingkar, tidak pernah khianat kepada sesama manusia.

Tapi apakah Rasulullah Muhammad SAW hanya memperuntukkan hadits tersebut untuk hubungan antar sesama manusia?
Kalau menurutku sih tidak. Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang terpilih untuk membimbing umat manusia agar selalu memperbaiki hubungan dengan Allah. Maka dari itu aku yakin, hadits tersebut juga ditujukan kepada hubunganku sebagai manusia dengan Allah Tuhan Semesta Alam.

Pertanyaanku adalah, sudahkah aku menjadi orang yang tidak munafik kepada Allah?

Tanda orang munafik yang pertama : Jika berbicara dia dusta

Tujuan Allah menciptakan manusia :

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Ibadah yang utama dalam agamaku, Islam, adalah shalat, sebagaimana ditunjukan QS. Thaha ayat 14 :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Iya aku shalat, dan ketika aku hendak shalat aku membaca niat :

“Aku berniat shalat fardu/sunnah …. x raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala”

Aku juga membaca doa Iftitah :

“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Dan kesimpulannya,

Ya, aku sudah berdusta kepada Allah, shalatku lebih banyak bukan karena Allah, banyak shalatku karena niat yang lain. Mengharap rejeki, mengharap harta, mengharap kemuliaan, mengharap dijauhkan dari kesusahan. Aku shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Aku shalat agar dipuji orang. Aku shalat agar dihormati orang.

Ya, aku sudah berdusta kepada Allah, wajahku tidak kuhadapkan kepada Allah, entah kemana wajahku menghadap. Aku termasuk orang yang menyekutukan Allah, aku menyekutukan Allah di dalam shalatku, aku tidak mengingat Allah di dalam shalatku. aku mengingat pekerjaan, rencana rencana, mengingat duniawi, kadang berkhayal, sampai lupa shalatku sudah rekaat yang keberapa.

Baru satu poin dan ternyata aku masih munafik kepada Allah…