Tersesat

Tersesat

Menurut kamus besar Bahas Indonesia :

se·sat a 1 tidak melalui jalan yang benar; salah jalan: malu bertanya — di jalan; mati –; 2 ki salah (keliru) benar; berbuat yang tidak senonoh; menyimpang dari kebenaran (tentang agama dan sebagainya)

Orang yang sesat itu sebenarnya lebih mending dari orang yang diam. Setidaknya dia sudah mulai berjalan. Meskipun masih belok belok, salah jalan, tersesat. Dikasih tahu jalan ngga mau karena sudah merasa benar. Dikasih tahu ngeyel karena merasa sudah bisa baca gps.

Makanya sangat masuk akal, setiap kita selesai membaca Al Fatihah selalu kita amin i. Karena ayat 6 & 7 itu sebuah doa, kita mengamini semoga Gusti Allah mengabulkan doa kita agar ditunjukkan jalan yang lurus, bukan jalan orang orang yang dimurkai, dan bukan jalan orang orang yang dikandani ngeyel.

Lalu, orang yang dimurkai itu yang bagaimana? Kalau konteksnya tentang berjalan menuju tujuan berarti orang yang dimurkai itu adalah orang yang sudah sampai tapi balik lagi, ngga percaya, ragu ragu, menyangsikan bahwa dia sudah sampai tujuan. Jadi orang yang tersesat lagi. Dikandani ngeyel lagi.

Dulu sempat bertanya tanya, “kok masih disuruh berdoa minta ditunjukkan jalan yang lurus sih, jalan yang mana lagi ya?”

dikasih tahu, jawabannya ya ada di Al Fatihah juga :

“Tunjukilah kami jalan yang lurus. (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahkan nikmat kepada mereka, bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (QS. Al-Fatihah : 6-7)

Jalan lurus itu jalannya orang orang yang sudah diberi nikmat. Lalu, siapakah orang orang yang sudah di beri nikmat oleh Gusti Allah itu?

Advertisements

Kenal

Kenal

Misi yang dibawa dan materi dakwah yang paling pertama dilakukan oleh para Nabi adalah menyampaikan pesan kepada keluarga, sahabat, dan umat mereka bahwa ada Sang Pencipta, sang Maha Kuasa yang harus dikenali.

Awal manusia beragama seharusnya seperti itu, belajar untuk mengenal Allah dengan sebenar benarnya dulu.

Yang terjadi sekarang adalah kebanyakan manusia merasa sudah kenal dan tidak perlu belajar mengenal Allah, sehingga agama kemudian hanya dijadikan sebagai hukum dan aturan aturan yang mengatur kehidupan dan tingkah laku manusia. Agama hanya dipakai untuk berpolitik dan berdagang. Agama hanya dijadikan panduan untuk mendapat pahala.

Padahal fungsi agama yang pertama dan yang utama adalah untuk mengenal Allah, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits qudsi :

“Awal beragama adalah mengenal Allah”

Tanpa mengenal Allah dengan sebenar-benarnya, beragama pun menjadi sia sia.

Jangan dikira mengenal Allah itu mudah, ada syaratnya. Tidak cuma karena diberitahu bahwa ada Allah yang harus di sembah lalu kemudian otomatis sudah mengenal Allah.

Para Nabi tidak hanya mengabarkan secara verbal, tapi mengajarkan keluarga,sahabat dan umatnya bagaimana cara mengenal Allah dengan sebenar-benarnya.

“Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ (QS. 18:103)

Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedang mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya. (QS. 18:104)

Ibadah itu adalah sebaik baik perbuatan apabila sudah mengenal Allah. Beribadah tanpa mengenal Allah, itulah perbuatan yang merugi dan sia sia.

“Wajib bagimu mengenali dahulu siapa yang harus disembah. Setelah itu baru engkau menyembahNya” (Imam Ghazali)

Kembali ke Asal

Kembali ke Asal

 

Mudik lahiriah adalah kembali ke kota asal, pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu kepada sanak famili.

Mudik ruhaniah adalah kembali ke asal, pulang ke Sang Pencipta.

“Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Sesungguhnya kami adalah kepunyaan Allah dan kepada Allah jugalah kami kembali).

Pemudik yang berhasil sampai tujuan adalah pemudik yang tahu jalan untuk kembali.

Pemudik yang berhasil sampai tujuan adalah pemudik yang tahu asal.

Selamat Idul Fitri 1438H

Kebenaran

Kebenaran

Biasanya, ketika aku menemukan suatu pemahaman yang aku anggap sebuah kebenaran, yang berdasar dan bersumber dari bahan bacaan atau perkataan seseorang, maka aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk mempertahankan kebenaran tersebut. Setelah itu akan aku sebarkan kebenaran tersebut. Bila perlu, aku akan mencari dan berkonfrontasi dengan oposisi ku; orang-orang  yang berbeda kebenaran denganku. Akan aku keluarkan semua data dan manuskrip andalanku untuk melawan mereka. Tujuan akhirku adalah agar oposisiku mengamini, sejalan dan sama-sama menganut kebenaran versiku yang aku anggap benar.

Yang aku lakukan ini adalah semata-mata untuk memasarkan sebuah pemahaman yang menurut ku adalah sebuah kebenaran, demi tegaknya kebenaran yang aku anggap benar.

Tapi, kata temanku, menemukan “kebenaran” tidak cukup hanya dengan membaca, mendengarkan dan memenangkan perdebatan. Menemukan “kebenaran” dengan benar adalah dengan sebuah pembuktian nyata melalui sebuah laku ke dalam diri, tindakan kepada diri, proses perjalanan menuju diri.

Kata temanku, penemu-penemu “kebenaran” kadang bersembunyi dan tersembunyi. Penemu-penemu “kebenaran” merasa tidak perlu untuk menampakkan diri.

Mereka tidak perlu mencari lawan untuk berkonfrontasi, karena mereka sadar, pada hakikatnya, semua manusia sedang diperjalankan untuk menemukan ”kebenaran”.

Mereka tidak perlu memasarkan sebuah “kebenaran”, karena mereka sadar, pada hakikatnya, para pencari  “kebenaran” pasti akan dipertemukan dengan para penemu “kebenaran”.

Pada hakikatnya, “kebenaran” itu sendiri akan menghampiri setiap manusia yang dengan sungguh sungguh mencari “kebenaran”.

Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. (QS. Al-Isra [17] : 81)

”Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al Baqarah [2] : 147)

Katanya

img_1536-13 orang sahabat sedang asyik bercengkerama…

Koko : “Ja, Tuhan itu ada atau tidak?”


Jaja : “ada!”


Koko : “Tahu darimana?”

Jaja : “kitab suci, perkataan para nabi…”

Koko : “Oh, masih katanya…, belum mencari kok sudah bilang ada…”

Koko : “sekarang kamu Jo, Tuhan itu ada ngga?”

Jojo : “ngga ada!”

Koko : “tahu darimana?”

Jojo : “lha mana? Aku belum pernah bertemu! Tuhan dimana aku juga tidak tahu! Katanya, Tuhan itu buah pikiran manusia, yang menciptakan Tuhan ya manusia!”

Koko : “Oh, masih katanya…belum mencari kok sudah bilang tidak ada…”

Jaja & Jojo : “lha menurutmu Tuhan itu ada tidak Ko!?”

Koko : “lha kok nanya aku, carilah sendiri, buktikanlah sendiri Tuhan itu ada atau tidak, jangan cuma “katanya”.

AL-INSAANU SIRRI WA-ANA SIRRUHU
Manusia itu rahasiaKu, dan Akulah rahasianya (hadits Qudsi)

Aku Munafik?

Aku Munafik?

Aku Munafik?

Membaca wall di Facebook akhir akhir ini banyak berseliweran kata “munafik”.

Pertanyaan yang terlintas di pikiranku, “apakah aku termasuk orang yang munafik?”

Menurut sabda Rasulullah Muhammad SAW: “Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara dia dusta, jika berjanji dia ingkar, dan jika dipercaya (diberi amanat) dia berkhianat.” (HR. Bukhari Muslim)

Kalau hadits tersebut diarahkan kepada hubungan antar sesama manusia, bisa aku pastikan aku bukan orang yang munafik. Kenapa?  ya seingatku, akhir akhir ini aku tidak pernah berbohong, tidak pernah ingkar, tidak pernah khianat kepada sesama manusia.

Tapi apakah Rasulullah Muhammad SAW hanya memperuntukkan hadits tersebut untuk hubungan antar sesama manusia?
Kalau menurutku sih tidak. Rasulullah Muhammad SAW adalah manusia yang terpilih untuk membimbing umat manusia agar selalu memperbaiki hubungan dengan Allah. Maka dari itu aku yakin, hadits tersebut juga ditujukan kepada hubunganku sebagai manusia dengan Allah Tuhan Semesta Alam.

Pertanyaanku adalah, sudahkah aku menjadi orang yang tidak munafik kepada Allah?

Tanda orang munafik yang pertama : Jika berbicara dia dusta

Tujuan Allah menciptakan manusia :

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyaat [51]: 56)

Ibadah yang utama dalam agamaku, Islam, adalah shalat, sebagaimana ditunjukan QS. Thaha ayat 14 :

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.”

Iya aku shalat, dan ketika aku hendak shalat aku membaca niat :

“Aku berniat shalat fardu/sunnah …. x raka’at menghadap kiblat karena Allah Ta’ala”

Aku juga membaca doa Iftitah :

“Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang sebanyak-banyaknya bagi Allah. Maha Suci Allah pada pagi dan petang hari. Aku menghadapkan wajahku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi dengan segenap kepatuhan dan kepasrahan diri, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang menyekutukan-Nya. Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidup dan matiku hanyalah kepunyaan Allah, Tuhan semesta alam, yang tiada satu pun sekutu bagi-Nya. Dengan semua itulah aku diperintahkan dan aku adalah termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).”

Dan kesimpulannya,

Ya, aku sudah berdusta kepada Allah, shalatku lebih banyak bukan karena Allah, banyak shalatku karena niat yang lain. Mengharap rejeki, mengharap harta, mengharap kemuliaan, mengharap dijauhkan dari kesusahan. Aku shalat hanya untuk menggugurkan kewajiban. Aku shalat agar dipuji orang. Aku shalat agar dihormati orang.

Ya, aku sudah berdusta kepada Allah, wajahku tidak kuhadapkan kepada Allah, entah kemana wajahku menghadap. Aku termasuk orang yang menyekutukan Allah, aku menyekutukan Allah di dalam shalatku, aku tidak mengingat Allah di dalam shalatku. aku mengingat pekerjaan, rencana rencana, mengingat duniawi, kadang berkhayal, sampai lupa shalatku sudah rekaat yang keberapa.

Baru satu poin dan ternyata aku masih munafik kepada Allah…